Lampu Mati

Posted: Mei 11, 2013 in Uncategorized

PLUP! Lagi-lagi mati lampu. Aku takut ketika lampu mati, mendadak sekeliling gelap dan aku terkepung dalam pekat. Seolah dunia mati sejenak, waktu berhenti berjalan. Mungkin aku saja yang terlalu paranoid, dengan pikiran memutar slide show horror. Aku suka gelap dalam ruanganku, aku suka sendiri dalam gelap, merasakan luka bisa berlipat-lipat menusuk dan perasaan riang naik menggelembungkan hati… tapi aku tidak suka lampu mati, aku tidak suka gelap yang terlalu luas.

 

 

Aku tidak suka kegelapan merajalela tanpa kamu. Aku ingat akan minuman hangat atau makanan kecil yang melulu ada bersama tv yang menyala, aku ingat obrolan saling tak mau kalah kita… selalu akhirnya membuat kita bertengkar dan berdiam diri hingga esok tiba mentari menandai satu hari baru lagi. Aku ingat pernah menyuapimu garam ketika kamu tertidur dengan mulut terbuka di depan televisi, aku ingat juga kamu menelannya tanpa syarat. Membuatmu kesal dan lari-larian ke dapur ketika tersadar rasanya, lekas membasuh mulut.

 

 

Mungkin enam atau tujuh tahun selisih umur kita waktu itu, aku tidak ingat dan tidak tahu. Tapi aku ingat ibu selalu marah padaku ketika tahu kita tidak saling sapa, “tidak baik begitu dengan saudaramu,”  (garis kekerabatan kita memang ada, begitu juga orang-orang desa lainnya, nenek bilang masih ada ikatan kekerabatan namun entah sudah melintasi berapa generasi, aku tidak mengerti dengan pasti). Tapi otak kanak-kanakku terlalu ditutupi ego ingin menang. Sementara kita selalu jadi seteru abadi, bertengkar karena apa saja, saling mendiamkan karena apa saja.

 

 

 

Bersamamu, aku selalu menikmati saat lampu mati… karena kita bisa bermain senter, saling menyorot muka berpura-pura jadi hantu atau membentuk jemari seperti hewan-hewan bermulut di tembok, atau bahkan burung-burung yang terbang. Berjam-jam lampu mati malah semakin menyenangkan, dengan kita yang selalu main tebak-tebakan saling mengelabui, menolak kalah kalau tidak bisa menjawab dan tertawa puas ketika masing-masing kebingungan menjawab.

 

 

Kamu tahu…., kamu jadi tak pernah sama lagi saat terakhir kali aku melihatmu. Kamu masih nampak cerah seperti kemarin-kemarin, tapi matamu hampa meskipun kamu tertawa, tawamu tak bernada meskipun berderai-derai. Kamu tidak fokus, apapun yang kamu omongkan jadi meleset kemana-mana, kehilangan arti. Aku tahu, aku sudah melihat kamu dengan berbeda… dan kamupun begitu. Kita sama-sama tumbuh dengan cara yang berbeda.

 

 

Kamu sudah menikah pada usia yang kelewat muda, tapi tak bahagia. Aku ingat darimana awalnya, kamu melahirkan anak pertamamu dengan sehat lantas kamu jadi aneh setelahnya. Kamu suka mengecap mulutmu keras-keras untuk menghasilkan suara keras, maunya mengobrol terus tanpa peduli ada lawan atau tidak untuk obrolan-obrolanmu. Kamu tidak mau menyusui anakmu yang masih berusia hitungan minggu dan begitu kecil serta rapuhnya dalam gendongan. Ah kasihan dia masa minumnya hanya susu formula, dia masih terlalu ‘peka’. Kamu selalu tertawa dengan berlebihan, ceria berlebihan dan selalu terdiam tiba-tiba ketika seseorang menekuk jempol kakimu sampai berbunyi.

 

 

Kena ‘setan’ kata orang-orang waktu itu, otak umur sebelasku waktu itu tidak ada jawaban bagi tanya mengapa dan bagaimana bisa. Kamu dibawa kemana-mana, seluruh keluarga sedih karenamu yang tak kunjung sembuh. Dan duka itu jadi semakin memekat ketika bayi rapuh yang baru saja beberapa waktu berada di dunia memutuskan pergi, mungkin kasih sayang yang ada disini masih kurang, mungkin baginya lebih baik minta kasih sayang Tuhan yang amat terkenal berlimpahnya. Entah bagaimana perasaanmu di dalam sana, tapi yang bisa kutangkap hanya sayup senyummu.

 

 

Berbulan setelah itu, setelah begitu banyak kamu sering dibawa kesana kemari, setelah bermacam ‘orang pintar’ mendatangi kamu.. akhirnya kamu sembuh meskipun tidak sepenuhnya. Kadang-kadang kamu mengomel lagi tanpa henti. Tapi itu tidak sering untungnya.

Sekitar dua tahun lalu kala lebaran, kamu tertawa lebar ketika tahu aku pulang dari luar kota. Kamu bilang kamu hamil, iya kamu cantik sekali saat itu. Atau memang sudah kodrat orang hamil untuk berada di pucuk prestasinya dalam tampil cantik? Aku ingat alm. Mama menyayangkanmu yang memutuskan hamil lagi dalam jarak waktu yang terlalu pendek setelah kamu sembuh sakit, takutnya kamu sakit lagi.

 

 

 

Dan yang kulakukan hanya mampu mengelus bahumu, semoga segalanya baik-baik saja ya.. harapku, do’a yang semoga diijabahNya untukmu.

 

 

 

Aku tidak bersamamu saat kamu melahirkan, aku masih diluar kota terjebak segala tuntutan akademis. Melalui sebuah pembicaraan telepon, alm. Mama menyampaikan kamu melahirkan seorang anak perempuan mungil bernama Imas. Tapi nampaknya segalanya tidak berjalan sebaik yang kuharapkan, sebaik yang kamu harapkan atau semua orang. Kamu sering mengomel lagi, ‘sakit’ yang pernah kamu derita berbalik lagi.

 

 

 

Keluarga suamimu mengasuh Imas akhirnya dan melarang kamu menemuinya bahkan jika keadaanmu sangat baik. Ketika kamu menemui anakmu di rumah mereka pulangnya kamu selalu menangis dan demam, kamu minta aku tidak kemana-mana hanya menemani dan mengompres kepalamu dengan air es. Aku tidak tahu bagaimana hati manusia bisa sejahat itu, melarang seorang anak menemui ibunya dan berkata, “Jangan dekat-dekat ibumu, dia gila!” keras-keras hingga sampai ke telingamu.

 

 

 

Bagaimana mungkin hatimu akan baik-baik saja sementara dengan mendengarnya sekilas dari mulutmu saja hatiku retak. Bukannya mereka prihatin dan lebih memperhatikanmu atas nama persaudaraan yang terikat pernikahan saudara kandung mereka, bukannya membiarkan anakmu bersamamu toh itu cuma sekali-sekali sambil hanya mengawasi atau mendampingimu mereka malah menghinamu, menggunjingmu, menyakiti hatimu. Bagaimana kamu bisa tahan memandang putri kandungmu semata-mata dari jauh ketika dia tumbuh dan nyaris tak terlalu mengenalmu padahal kalian pernah bersatu di satu tubuh. Astaga, semoga Tuhan tidak pernah membiarkan aku menjadi seperti mereka.

 

 

 

Dan yang lebih membuat hatiku retak, nampaknya suamimu juga tidak terlalu punya kekuatan untuk membelamu. Dia membiarkan semua prosesi jahat itu terjadi padamu, bagaimana bisa begitu? Sementara kamu terluka dan demam di dekatku, dia terpisah rumah denganmu. Menangis juga aku tidak sampai hati, karena kamu butuh tawa serta butuh hiburan, bukannya butuh ditangisi.

 

 

Kamu melarangku waktu itu, dan untuk berikut-berikutnyapun kamu sering melarang-larangku untuk menjalin hubungan dengan laki-laki, memohon dengan senyum hampa dan aku mengiyakan… asal kamu senang meskipun dalam hati tidak yakin bisa. Kamu kacau, aku tahu. Dan aku adalah manusia yang bahkan takut bertambah usia, takut kehilangan banyak kesempatan dalam hidup, takut tersia dan tertinggal.  Aku takut kehilangan, aku takut ditinggalkan, aku juga takut jatuh setelah mencintai. Bahkan aku masih suka memelihara ego. Bagaimanapun, dengan cara apapun aku tetap tidak sematang kamu.

 

 

Dan sekarangpun aku bahkan lebih skeptis dari sebelumnya, soal komitmen, soal hubungan, iya.. segala hal yang terjadi disekitarku yang terlalu banyak terlanjur mampu mempengaruhi sudut pandangku. Aku manusia skeptis. Memang dengan merasa seberapa besar sakit patah hati kita tahu sebelumnya seberapa berat kita mencintai. Tapi hati juga butuh tambalan, butuh dikuatkan sementara dalam prosesnya itu akan lama. Maka sebelum aku jatuh lagi, aku belajar arti melepaskan. Aku belajar menyelami keikhlasan, bahwa apa yang datang sebelum waktu yang kita harapkan mungkin akan pergi lagi. Lebih cepat pergi daripada yang kita maui.

 

 

 

Aku belajar, hati wanita itu mudah. Kemungkinan cinta dalam hatinya hanya ada tiga macam : bukan cinta cuma suka dan tidak ada perasaan sayang, hatinya terbagi, dan mencintai seratus persen. Aku belajar bahwa dalam cinta yang seratus persenpun kita mestinya disaat yang sama juga belajar mengerti tidak ada hal yang selamanya. Pertanyaannya cuma, sampai kapan? Apakah dia orang yang kita harapkan ada akan selalu ada hingga akhir? Atau lagi-lagi cuma mampir?

 

 

 

Aku banyak belajar dari keadaan, sahabat.. semoga semua akan lancar ya.. semoga kamu bahagia, aku juga🙂 banyak rencana yang tengah kususun untuk kulakukan. Jadi aku tidak bisa sering pulang atau menemuimu. Maafkan ya..

 

 

Aku ingat kamu bertanya saat aku bersamamu disuatu sore saat hati kita tengah sama-sama patah, ingatkah aku soal saat-saat itu? Kamu menjemput aku di sekolah, bermain bersama bahkan bertengkar satu sama lain dengan saling mencari pembelaan dari orang-orang. Aku jawab, ya aku ingat. Dan aku memang benar-benar ingat, hingga menulis mengenai kamu dan momen kebersamaan kita yang manis disini.

 

 

Eh, lampunya sudah kembali menyala :) 

 

 

 

 

 

 

 

 

untuk seorang sahabat masa kecil yang cantik dan kuat, kutuliskan ceritamu disini beserta iringan do’a dalam jarak kita untukmu..

 

http://www.facebook.com/notes/dinda-anindia/lampu-mati/223669591016547

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s